Waspadai Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal

Penggunaan jasa pinjaman online (pinjol) atau (P2P Lending) semakin marak saat ini. Kemudahan dalam meminjam dana menjadi salah satu kelebihan layanan jasa keuangan ini dibandingkan perbankan. Dalam hitungan hari, pinjaman dapat langsung dicairkan tanpa perlu repot-repot mendatangi bank.

Isu Hukum Praktik Pelanggaran Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal

Isu hukum yang menjadi permasalahan dalam praktik pinjaman online ilegal adalah penyalahgunaan data milik konsumen peminjam tanpa izin oleh pihak platform dengan cara mengakses data pada perangkat telepon seleuler sebagai cara melakukan penagihan utang kepada debittor.

Pelanggaraan yang terjadi pada konsumen peminjam atas penyalahgunaan data pribadi pada jaringan seluler oleh peerusahan penyedia platform diantaranya penagihan intimidatif , penyebaran data pribadi pada kontak yang ada di nomer milik konsumen hingga pelecehan seksual.

Ragam dugaan pelanggaran tersebut salah satunya bersumber dari hasil laporan pengaduan masyarakat yang diterima Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sejak tahun lalu. LBH Jakarta mencatat sebanyak 14 pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang dialami oleh korban aplikasi pinjaman online.

Pelanggaran yang Dilakukan Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal

Menurut Rizki (2019) menyebutkan pelanggaran-pelanggaran tersebut sebagai berikut :

  • Bunga yang sangat tinggi dan tanpa batasan.
  • Penagihan yang tidak hfanya dilakukan pada peminjam atau kontak darurat yang disertakan oleh peminjam.
  • Ancaman, fitnah, penipuan dan pelecehan seksual.
  • Penyebaran data pribadi.
  • Penyebaran foto dan informasi pinjaman ke kontak yang ada pada gawai peminjam.
  • Pengambilan hampir seluruh akses terhadap gawai peminjam.
  • Kontak dan lokasi kantor penyelenggara aplikasi pinjaman online yang tidak jelas.
  • Biaya admin yang tidak jelas.
  • Aplikasi berganti nama tanpa pemberitahuan kepada peminjam, sedangkan bunga pinjaman terus berkembang.
  • Peminjam sudah membayar pinjamannya, namun pinjaman tidak hapus dengan alasan tidak masuk pada sistem.
  • Aplikasi tidak bisa di buka bahkan hilang dari Appstore / Playstore pada saat jatuh tempo pengembalian pinjaman.
  • Penagihan dilakukan oleh orang yang berbeda- beda.
  • Data KTP dipakai oleh penyelenggara aplikasi pinjaman online untuk mengajukan pinjaman di aplikasi lain.
  • Virtual Account pengembalian uang salah, sehingga bunga terus berkembang dan penagihan intimidatif terus dilakukan.

Leave a Comment